Arrow
Arrow
Shadow
Slider

Semua pasti udah pada tahu kalau yang namanya lahir, rezeki, jodoh dan mati itu sama-sama takdir Allah. Kita nggak pernah bisa milih mau lahir di keluarga mana, berapa rezeki yang kita dapatkan, atau berjodoh dengan siapa serta kapan mati. Kita nggak pernah bisa menentukan itu semua bukan. Apa yang bikin bete dari ditanya "Kapan nikah?" ialah kita sejatinya nggak pernah bisa menentukan itu semua, betul pernikahan bisa direncanakan dan kalau Allah ridho ya mudah bagi Dia untuk mengabulkannya.

Tapi hal yang terjadi bisa sebaliknya. Persiapan pernikahan udah pol banget beberapa jam lagi pun nggak jarang bisa batal karena salah satu pasangan mati misalnya. Ya, mati.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa yang namanya rezeki, umur, pekerjaan dan kebahagiaan atau kecelakaan termasuk jodoh udah ditentukan sama Allah SWT bahkan sebelum seseorang lahir ke dunia.

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia.” (HR. Bukhari)

Kalo mau husnuzon nihh, kebanyakan orang yang nanya "Kapan nikah?" niatnya baik dan beranggapan kalau nikah itu salah satu momen bahagia semua orang. Jadi ya mereka nanya seperti itu karena nggak sabar pengin lihat satu momen bahagianya kita.

Meski tak bermaksud mengolok, candaan dan pertanyaan serius “kapan nikah” kerap kali terlontar. Kalau cuma sekali atau dua kali, pertanyaan itu enak dicerna dan dianggap angin lalu belaka. Tapi apa jadinya jika pertanyaan seputar ini selalu ditanya lagi dan lagi, tersindir disini dan disana. Sampai-sampai seolah para jomblo kehabisan cara untuk menjawab hal senada.

Tak jarang yang terjadi justru sebaliknya... kita yang masih memegang teguh status single ini sering tersakiti hatinya dan tertekan dengan pertanyaan "Kapan nikah?". Calon belum ada, kerjaan belum mapan, mau sering silaturahmi ehhh ditanya gitu mulu, akhirnya beban menumpuk itu nggak jarang bikin kita depresi.

Intinya apa yang ada di benak si penanya "kapan kawin?" dan orang yang ditanya itu frekuensinya nggak nyambung. Mulailah pertanyaan itu jadi trending topic sejagad dan pembahasannya nggak pernah kelar sampai sekarang.

Berikut empat tipe dan cara yang bisa dijadikan jawaban pas, tepat, sampai nyentrik ketika Anda ditanya “kapan nikah”.

1 : Jika ditanya kapan nikah ? Jawab saja, “Insyaallah, mohon doanya”. Orang yang berniat tulus sampai bercanda, biasanya akan terdiam dan merasa cukup dengan lontaran seperti ini. Jangan lupa, Anda juga harus pasang tampang serius namun lembut, jangan cengegesan. Karena gesturealias bahasa tubuh, serta mimik, akan menentukan seberapa besar bobot dari kata-kata itu.
2 : “Kuliah udah, kerja udah, nikah kapan nih?” Ngaku deh, sering kan ditanya seperti ini. Biasanya kalimat ini terlontar untuk Anda yang dianggap sudah cukup umur dan mapan, atau setidaknya memang dianggap telah tiba waktunya, tapi belum-belum juga datang jodoh. Maka jawab saja, “sabar ya, lagi nyari yang sekufu dan se-agama”. Insyaallah yang dengar mafhum arah pembicaraan ini.
3 : Jomblo sering diledekin, rasanya memang begitu adanya. “Sandal aja ada pasangannya, kok kamu sendirian aja”. Model seperti ini cukup dijawab dengan pernyataaan : “Cari sandal aja pengennya yang cocok di kaki, bukan cuma cocok di mata sama cocok di kantong”. Jawaban ini akan mengesankan Anda adalah tipe selektif dan tidak mau disamain dengan nasib-nasib sandal, yang apalah itu artinya dibanding harga diri Anda.
4 : Tak kalah telak, kadang jomblo terkena kritik tajam dengan sebuah pernyataan “Jangan terlalu banyak pertimbangan, pilih saja dari yang ada”. Batin jomblo kadang hendak teriak. Apalagi sebenarnya ini bukan masalah kita enggan memilih, tapi justru baru ditolak, hehe. Ah, sudahlah. Hal itu cukup Tuhan yang tahu. Maka buat orang yang sok kritik dan sok tahu ini katakan saja : “Jodoh pasti bertemu, jodoh pasti bertamu, jodoh pasti bersatu”.

Sebenarnya, masih banyak jenis pertanyaan “kapan nikah” beserta kiat-kiat menjawab supaya nggak mati kutu. Namun pada hakikatnya sama saja. Hal utama dari tantangan ini ialah bagaimana kita selalu membangun mental sebagai orang merdeka. Yaitu, kita ialah sosok yang membentuk keadaan dengan jalan hidup yang kita pilih. Bukan sebaliknya, direpotkan dengan suara-suara sumbang yang bahkan itu hanya sendar gurau pemecah keheningan.

Kabar baiknya kita juga bisa memilih untuk tegas jawab kalo nikah itu takdir Allah dan minta orang lain untuk berhenti bertanya seperti itu. Atau memilih husnuzon pada yang nanya dan ya dibawa santai aja gitu. Nggak usah dijadiin beban.

Ketika orang-orang lebih suka bertanya "Kapan nikah?" bukan "Kapan mati?" adalah bukti kalau keluarga, teman atau kerabat mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan untuk kita. Ya syaratnya kita juga berpikir seperti itu.

Jadi, tak pantas kita berkecil hati, tak pula merasa tidak laku. Semua ada jalannya, setiap kejadian perlu momen. Kita hanya memilih cara, tapi Allah juga yang menentukan momentum dan tiap inci realitas yang menimpa kita.

Perbaiki diri terus menerus untuk menjadi orang shaleh, sabar adalah ibadah tersendiri sehingga tiba waktunya.

Allah SWT berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),” (QS. An-Nur: 26).

Sholat tahajjud dan banyak berdoa kepada Allah SWT. Dibolehkan menyebutkan amalan-amalan yang sudah dilakukan dalam doa kita. Misal, “Ya Allah semoga amal puasa yang sudah hamba lakukan, dapat menyegerakan jodoh yang terbaik menurut Engkau.” Banyak Istighfar. Banyak berinfak.

Jangan pernah putus meminta dan berdoa hanya kepada-Nya. Yakinlah itu adalah yang terbaik menurut-Nya.

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila Dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa,” (QS. al-Israa:83).

Berputus asa akan membuat kita terputus dari rahmat Allah SWT. Putus asa sering dipicu karena kita memiliki sedikit saja prasangka buruk kepada Allah SWT. Misalnya, seorang wanita sudah merasa Allah SWT menjadikan dia perawan tua, karena hingga usia yang sudah cukup matang namun jodoh masih tak kunjung tiba. Maka Allah pun menjadikannya seperti itu.

Namun jika dia optimis, Allah SWT pasti akan menolongnya.