Arrow
Arrow
Shadow
Slider

Kisah ini terinspirasi dari kehidupan seseorang, yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang masih belum menemukan pasangan hidup. Kisah seorang anak yang begitu tulus berbakti kepada kedua orangtuanya. Hingga akhirnya bisa menikah dengan seorang pria seperti yang diharapkan sang ibu tercinta. Berikut kisahnya...

Aku terlahir sebagai anak semata wayang. Kini usiaku 25 tahun, dan penampilanku biasa saja. Shalihah tidak, celometan iya. Cantik tidak, jerawatan iya. Seksi tidak, gendut iya. Putih tidak, hitem banget. Terlalu biasa, kan? Bahkan jika aku menawarkan diri kepada dua puluh laki-laki untuk menikahiku, bisa dipastikan mereka semua akan menolak. Tapi Alhamdulillah, aku tidak perlu susah-susah melakukan hal tersebut, karena setahun lalu Allah mempertemukanku dengan lelaki muda yang shalih, pintar, juga penghafal Qur’an, kemudian menyatukan kami dalam mahligai pernikahan suci.

Semasa SMA, aku merupakan anak yang terlalu aktif, banyak tingkah, suka keluyuran bersama teman-teman, mengaji juga jarang, meski tak pernah kulewatkan sholat fardhu 5 waktu. Menikmati masa-masa muda, begitulah pikirku.

Hingga sebuah cobaan membuka mataku. Tepat seminggu setelah aku menyelesaikan Ujian Nasional (UNAS) tingkat SMA, aku mendapat kabar bahwa ibuku menderita kanker serviks tingkat lanjut!

Dan dari sinilah titik balik kehidupanku dimulai…

Makin hari, kondisi ibu makin melemah. Berulangkali ia harus masuk rumah sakit untuk diopname, tentu saja dengan biaya yang tidak murah -- saat itu belum ada BPJS--. Imbasnya, perekonomian keluarga kami berantakan, bisnis bapak bangkrut, dan ia mulai terlilit hutang. Dengan kondisi tersebut, aku sadar diri untuk tidak melanjutkan kuliah. Kukatakan hal itu pada ibu, dan beliau hanya menitikkan air mata di atas pembaringannya. Ibu meminta maaf karena membuat kuliahku tertunda. Aku menggeleng, berdalih bahwa toh kuliah bisa kapan saja.

Suatu malam, kudengar ibu merintih di kamarnya. Saat kuhampiri, ia telah muntah darah. Cepat bapak membawanya ke rumah sakit. Setelah didiagnosa, dokter memberitahu kami bahwa kanker ibu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Ketika berita itu kudengar, aku langsung lari menuju ruangan tempat ibu dirawat, dan memeluknya erat. Tak bisa kubendung air mata ini. Lemah ibu membelai kepalaku, aku makin terguncang. Saat itu juga aku bertekad untuk menghafalkan al-Quran demi kesembuhan ibu. Aku ingat seorang penceramah berkata bahwa amal shalih bisa menolak bala’ dan musibah. Semoga dengan menghafalkan al-Quran, Allah mengangkat segala penyakit ibu.

Keadaan ibu makin parah di kemudian hari. Dokter berkata padaku, “Mbak, saya hanya seorang dokter. Tidak bisa menentukan hidup atau mati manusia. Tapi jika menurut analisa medis…”

“Apa ibu tak bisa sembuh, Dok?” ucapku bergetar.

Dokter itu menyentuh bahuku, menyuruh duduk. “Sebaiknya Mbak turuti saja permintaan ibu. Lakukan apa pun jika ibu meminta. Sudah saatnya Mbak senangkan hatinya.”

“Apa ibu tak bisa sembuh, Dok?” kali ini pandanganku mengabur.

“Sekali lagi, saya hanya seorang dokter. Tak ada kekuatan bagi saya untuk menentukan mati hidupnya manusia. Hanya Allah penggenggam setiap nyawa. Namun menurut analisa kami, penyakit kanker pada tubuh ibu Mbak sudah sangat parah. Kanker itu sudah membentuk benjolan sebesar kepala bayi di rahim ibu Mbak.” Dokter itu kembali menepuk pundakku.

Aku tertunduk pasrah. Allah, kuatkan hamba.

Malam hari setelah percakapan itu, ibu terbangun dari tidur, kudengar ia beberapa kali terbatuk. "Nduk, kemarilah."

Aku menghampiri ibu. "Iya, Bu."

"Nduk, boleh ibu ngomong sesuatu?"

Aku mengangguk.

"Semenjak sakit, ibu sudah gak pernah lagi sholat jamaah. Ibu pingin sekali sholat jamaah di masjid. Selama ibu di rumah sakit, apa kamu mau bantu ngantar ibu sholat jamaah di masjid rumah sakit?"

"Kan Ibu sedang sakit? Boleh kok sholat di ranjang. Sambil bobo juga boleh."

Ibuku menggeleng, "Ibu pingin sholat jamaah di masjid. Ibu pingin dicatat Allah sebagai orang yang mujahadah pada-Nya, meski dalam keadaan sakit. Kamu mau bantu ibu, Nduk?"

Baiklah.

Maka setelah itu, tiap hari kugendong ibu untuk sholat di masjid rumah sakit. Masjid itu berada di lantai 3, sedangkan ibu dirawat di lantai 1. Tiap hari aku gendong ibu melewati tangga dua lantai. Jika adzan Dhuhur berkumandang jam setengah 12 siang, maka jam 10 pagi aku sudah menggendong ibu ke masjid. Setiap menggendong ibu, aku selalu terkenang kisah Uwais al-Qorni, seorang pemuda yang rela menggendong ibunya yang lumpuh untuk pergi haji, mulai dari Yaman ke Mekkah, Mekkah ke Madinah, lalu kembali lagi ke Mekkah untuk tawaf. Bagiku, pengorbanan ini tak sebanding dengan pengorbanan Uwais.

Pernah suatu ketika saat kami akan turun dari masjid ke lantai satu, ibu mengalami pendarahan. Darah yang keluar dari kemaluannya begitu banyak hingga mengotori lantai. Karena itulah kami dimarahi suster rumah sakit.

“Gimana, sih, Mbak? Kalau gini, kan, jadinya kotor.”

Aku jawab tegas, “Akan aku pel. Tenang saja, Sus. Sebentar, aku bersihin tubuh ibu saya dulu.”

Kembali kugendong ibu ke ruangannya. Dan aku masih ingat apa yang dibisikkan ibu saat itu:

“Nduk. Maafin ibu, ya? Gara-gara ibu, kamu jadi susah. Gara-gara ibu kamu gak sampai kuliah,” ibu mendekatkan wajahnya padaku. “Tapi ibu cuma bisa berdoa. Mudah-mudahan Allah memberikanmu kehidupan yang enak kelak. Punya suami yang baik agamanya, pinter, ganteng. Nduk, sekali lagi Ibu minta maaf.”

Andai tak sekuat tenaga aku tahan, mungkin air mataku tumpah saat itu juga.

Sekembalinya dari mengantar ibu dan membersihkan tubuhnya, aku mengepel darah ibu yang tercecer di tiga lantai rumah sakit.

Jika jadwal bapak menjaga ibu, aku tidak kembali ke rumah, melainkan jualan kue kering di dekat kampus Unair B, untuk menambah uang jajan. Di sela-sela berjualan, aku menghafalkan al-Quran. Dan pada selasa ba’da maghrib biasanya ada kajian di masjid dekat sana. Aku sering mengikuti pengajian itu. Kebetulan yang mengisi pengajian tersebut adalah seorang pemuda ganteng, dan pastinya shalih. Aku sering mendapati akhwat-akhwat saling berbisik memuji ketampanan sang pemateri. Ganteng banget sih, emang. Aku juga mau, deh kayaknya. Hihi.

Aku lupa itu hari apa, ketika aku sedang berjualan, bapak menelponku. Ia mengabarkan bahwa ibu meninggal dunia. Aku serasa dihantam palu besar, linglung. Aku tahu ini bakal terjadi, tapi tetap saja aku tak siap menerimanya. Satu-satunya wanita yang pernah kudiami rahimnya telah tiada.

Ibu dikuburkan hari itu juga.

Hari-hari berlalu, kesedihan ditinggal ibu mulai luntur. Benarlah, bahwa waktu akan mengobati segala luka. Tugas kita hanya mengikhlaskan apa yang terjadi. Kini selain menjadi guru TK, aku juga jadi fasilitator penghafal Quran di yayasan milik ustad Yusuf Mansyur. Surprise, ternyata eh ternyata, di yayasan itu aku sekantor dengan pemateri ganteng di masjid dekat tempat aku jualan kue dahulu. Eh, ternyata dia masih bujang, loh.

Tentu saja aku tak pernah berandai-andai untuk jadi pendampingnya. Siapa mau denganku yang tak istimewa ini? Tapi setiap kali berkomunikasi, atau hanya bertegur sapa dengannya, hati ini langsung nyes. Ah, seandainya saja …, woy, pergi jauh-jauh baper.

Entah semalam mimpi apa aku ini, sebab Kamis sore, ada 3 akhwat teman kerja menitipkan proposal nikahnya padaku untuk dilanjutkan ke si ustad muda ganteng itu. Bayangkan! 3 orang! Aku sampai berpikiran kalau mereka pasti mau dipoligami sekaligus. Hahaha. Eh, tapi gimana kalau aku ikutan daftar? Siapa tahu kepilih? Kan, pas tuh 4 orang. Tuh, kan baper lagi.

Mungkin inilah keajaiban jodoh. Cara Allah menjodohkan seseorang memang unik. Pada bulan kedua setelah aku menyampaikan ketiga proposal nikah itu ke si ustad ganteng, tiba-tiba murobbiku, guruku dalam menghafal al-Quran bilang padaku.

“Bunda Dini sudah siap nikah belum?”

“Ya, kalau ada yang mau sih, gak papa, Ustadah. Hihi,” jawabku cengengesan.

“Berarti siap? Soalnya ini ada yang minat dengan Bunda Dini.”

Aku melongo, “Eh, siapa?”

“Nanti ana kasih proposalnya. Mau kan?”

“Ya, asalkan dia cowok saja, Ustadah.” Entahlah, aku kok tidak bisa meninggalkan cengengesan ini.

“Bukan hanya cowok, Bun. Dia ustad, ganteng, pinter lagi, dosen farmasi Unair. Sama seperti Bunda Dini, dia juga penghafal al-Quran,” kata murobbiku mantap.

“Siapa sih, Us?”

“Nanti ana kasih biodatanya, gak sabaran banget sih.” Ustadahku tersenyum.

Aku salah tingkah.

Dan saudara-saudara. Tahukah kalian siapa lelaki yang kelak akan menjadi suamiku itu? Namanya Galuh, ustad muda ganteng pujaan teman-teman akhwat di kantor. Ustad yang membuat 3 akhwat menyetorkan biodata untuk disampaikan padanya.

Hanya butuh 4 hari dari ta’aruf, akhirnya kami pun menikah. Cepat memang, sampai banyak terlupa siapa saja yang harus aku undang.

Lalu kenapa aku yang dipilih? Padahal, demi Allah, aku tidak ikut menyetorkan biodata padanya. Bukankah ketiga temanku yang menitipkan proposal waktu lalu jauh lebih menarik dariku? Amalan apa yang membuatku hingga nantinya menjadi istri dari lelaki istimewa itu?

Sekejap aku teringat kata-kata ibu ketika aku menggendongnya menuruni masjid rumah sakit dari lantai 3 ke lantai 1 tempo itu:

“Nduk. Maafin ibu, ya? Gara-gara ibu, kamu jadi susah. Gara-gara ibu kamu gak sampai kuliah. Tapi ibu cuma bisa berdoa. Mudah-mudahan Allah memberikanmu kehidupan yang enak kelak. Punya suami yang baik agamanya, pinter, ganteng. Nduk, sekali lagi Ibu minta maaf.”

Allahuakbar, semua doa ibu terkabul hari ini.

“Nah, begitulah Kak ceritanya. Panjang banget, ya.” Bunda Dini kini meneguk segelas air, rupanya haus banget ia setelah bercerita. “Jadi sorry kalau aku terlupa ngundang Kakak.”

Aku tak lagi memperhatikan kata-kata Bunda Dini, yang terpikir di otakku sekarang ini adalah, “Aku harus menuliskan kisah ini. Agar pemuda-pemudi jomblo di luar sana tidak ngenes dalam penantian bertemu jodoh. Sebab, kunci mendapat jodoh hanya satu: BERBAKTI KEPADA ORANG TUA. Itu saja.”