Arrow
Arrow
Shadow
Slider

Malam Pengantin merupakan saat yang pastinya dinanti-nantikan oleh pasangan pengantin. Tetapi, adakalanya malam pengantin tidak memberikan kepuasan bagi pasangan pengantin baru, bahkan mungkin ada yang merasa kecewa pada saat menjalani malam yang seharusnya dilewati dengan penuh kebahagiaan ini. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan pengantin agar dapat meraih kebahagiaan ketika melewati malam pertama mereka?

Selama ini, biasanya ketika calon pengantin hendak melangsungkan pernikahan malah tidak bisa berisitirahat dengan benar, karena lebih memikirkan prosesi pernikahan yang akan dijalaninya keesokkan harinya. Alhasil pada hari pelaksanaan, bukan badan yang segar bugar yang terpancar pada wajah sang pengantin tetapi wajah kecemasan dan penuh tegang. Ditambah lagi prosesi yang begitu panjang menguras tenaga, akan semakin membuat malam pertama yang seharusnya dilakukan dengan kegembiraan menjadi suatu beban. Dari sinilah masalah itu biasanya muncul. Oleh karenanya, ada beberapa ahli kecantikan yang menyarankan agar para pengantin yang hendak melaksanakan upacara pernikahan mempunyai waktu yang cukup untuk tidur, bila memungkinan seminggu sebelum hari pelaksanaan dapat memanfaatkan hari-harinya untuk beristirahat dengan baik dan benar.

Kecenderungan melihat situasi malam pengantin dari sudut pandang kesehatan, ataupun kecantikan diri ini sudah benar adanya. Karena apabila Anda tidak sehat, kenikmatan malam pengantin dapat terjadi sebaliknya, bahkan meninggalkan kesan buruk. Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pengantin agar dapat melewati malam pengantin dengan sukses.

Kurang terencana

Menurut para ahli, bila sepasang insan yang ingin memasuki Lembaga pernikahan hendaklah mempunyai rencana-rencana yang mantap. Pendapat ini tidak selalu berorientasi pada hal-hal materialistik. Tapi coba Anda bayangkan, bagaimana malam pengantin akan mengesankan jika pengantin baru masih harus memikirkan dana untuk menutup biaya pernikahan, atau bakalan akan tinggal di mana, bila harus mengontrak rumah sendiri apakah sudah dananya, dan sebagainya. Memang materi bukanlah segalanya. Tetapi ketika pengantin harus dihadapkan masalah tersebut, yang membuat malam pengantin begitu nikmat bukan karena faktor fisik sehingga hubungan seksual itu dapat berjalan lancar, tapi karena adanya faktor mental yang lebih berperan.

Malam pengantin yang membuyarkan

Malam pengantin yang buruk adalah pada malam ketika dua insan telah resmi menjadi sepasang suami istri, yang seharusnya membangun landasan perkawinan menjadi kokoh, sebaliknya malah membuyarkan. Hal ini bermula ketika pasangan pengantin memiliki imajinasi yang terlalu tinggi. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh pengantin pria saja, bahkan pengantin wanita pun mungkin saja melakukannya. Dan ketika mereka mendapati malam pengantin tidak sebagaimana yang mereka khayalkan, akan membuat malam pengantin mereka menjadi buyar.

Perawan

Masalah yang tetap saja menjadi "kuno" di kalangan kaum pria adalah apabila mereka mendapatkan si gadis tidak perawan lagi. Jika Anda pria, lalu mempunyai sikap keharusan perawan bagi calon istrinya, hendaklah hal itu sudah menjadi pengetahuan yang bersangkutan sebelum malam pengantin tiba, juga sebelum naik ke ranjang pengantin. Yang berbahaya adalah, jika timbul kecurigaan yang membuat segala bentuk versi dalam batin, tetapi tidak pula berani menyatakannya. Yang menjadi dilema, apabila hal tersebut dinyatakan kemudian menjadi konflik di antara keduanya. Bila menginginkan sebuah keharmonisan dalam keluarga tersebut, sudah selayaknya masalah perawan dan tidak perawan "calon istri" dipecahkan jauh-jauh hari.

Impotensi

Masalah impotensinya pengantin pria juga menjadi masalah tersendiri dalam sebuah pernikahan. Masalah ini tidak ada bedanya dengan ketika pengantin pria mendapati sang pengantin wanita tidak perawan lagi. Bila hal ini tidak segera ditemukan jalan keluarnya dapat menjadi menjadi sesuatu yang besar yang dapat mengganggu kehidupan berumah tangga.
Untuk mengatasi semua permasalahan ini, ada beberapa petunjuk dari para ahli  yang mungkin dapat dijadikan pegangan oleh para calon pengantin, setidaknya ketika menghadapi malam pengantin. Kami hanya sekedar memberikan wawasan, tetapi tetap semua permasalahan yang ada dalam kehidupan rumah tangga sebaiknya dikembalikan pada ajaran-ajaran agama dan norma budaya kita.

  • Sebaiknya antara pengantin pria dan wanita telah mempunyai komitmen dalam memasuki gerbang pernikahan. Dari komitmen ini dapat diketahui apa yang diinginkan oleh pengantin laki-laki maupun pengantin wanita. Setidaknya dari komitmen itulah sepasang suami istri menjalani pernikahan seperti yang mereka inginkan.
  • Jika dua calon pengantin berasal dari dua budaya yang berbeda maka diperlukan adaptasi budaya satu dengan lainnya, sehingga tidak akan menimbulkan konflik di masa depan.
  • Diperlukan pemeriksaan medis baik pengantin pria maupun pengantin wanita, agar tidak terjadi kekecewaan di salah satu pihak atau tuding menuding yang merupakan awal suatu neraka rumah tangga.
  • Peran kata dan raba. Barangkali ini lebih penting daripada senggama di malam pengantin itu sendiri, atau setidaknya salah satu persyaratan puncak. Kadang memang ketergesaan selalu ada di pihak pria, namun ini sudah seharusnya disadari jauh hari sebelum peristiwa terjadi.
  • Hubungan seksual harus sepenuhnya dilakukan dengan sadar oleh keduabelah pihak. Rasio dan emosi harus seimbang.
  • Setelah melakukan coitus sebaiknya tidak melepaskan dekapan dan antara satu dengan yang memberikan pujian. Hal ini akan memberikan kesan yang mendalam pada masing-masing pihak, karena merasa lebih dihargai.

Petunjuk-petunjuk ini karena perkembangan zaman mungkin dianggap basi atau tidak penting lagi. Padahal, dengan munculnya pelbagai kemajuan teknologi banyak dari orang-orang yang memasuki malam pengantin dengan "sikap prematur". Sehingga malam pengantin cuma dianggap sebuah ritual, bukan bagian dri hakikat hidup. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi Anda yang akan memasuki gerbang pernikahan.