Arrow
Arrow
Shadow
Slider

Benarkah Suami Menanggung Dosa Istri?

Istri merupakan tanggung jawab suami. Tetapi apakah dosa istri harus ditanggung suami? Istri memang adalah tanggung jawab suami. Apapun yang dilakukan istri, suami wajib mengetahuinya. Bahkan ketika sang istri tidak melaksanakan kewajiban shalatnya maka suami ikut dimintai pertanggungjawaban. Beda halnya ketika suami tidak shalat maka istri tidak ikut bertanggung jawab kelak di pengadilan sang Khalik.

Dalam hal ini bukan dosa istri yang ditanggung oleh suami namun suami yang bertanggung jawab akan akhlak istrinya. Ketika telah terucap ijab kabul maka secara otomatis, suami wajib mendidik istrinya agar taat pada aturan Allah. Suami wajib mengingatkan istri ketika istri melakukan kesalahan dalam syariat atau kesalahan yang merugikan orang lain.

Jadi suami dianggap berdosa jika ia lalai mengingatkan istri dalam menjalankan perintah Allah atau ketika ia tidak mengingatkan istri dalam menjauhi larangan Allah, atau tidak mendidik istrinya dengan benar dalam hal Agama.

Read more: Benarkah Suami...

Hukum Merusak Rumah Tangga Orang Lain Dalam Islam

Pada saat ini sering terjadi fenomena perceraian. Tidak hanya terjadi pada artis saja, bahkan orang dari kalangan biasa pun tidak luput dari masalah perceraian. Seringkali yang dijadikan alasan terjadinya perceraian, karena adanya faktor perselingkuhan. Kali ini kita tidak membahas masalah perselingkuhan. Tetapi lebih kepada masalah yang timbul akibat perselingkuhan tersebut. Dengan adanya perselingkuhan menyebabkan rusaknya keutuhan rumah tangga. Nah, bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini?

Dari Abî Hurairah –radhiyallâhu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullâh – shallallâhu ‘alaihi wa sallam – bersabda: ‘Siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba sahaya dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami, dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah dari kami’”. [Hadîts shahîh diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzâr, Ibn Hibbân, Al-Nasâ-î dalam al-Kubrâ dan Al-Baihaqî].
Teks Hadîts
Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam – bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (( مَنْ خَبَّبَ عَبْدًا عَلَى أَهْلِهِ فَلَيْسَ مِنَّا، وَمَنْ أَفْسَدَ اِمْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا )) [حديث صحيح رواه أحمد والبزار وابن حبان والنسائي في الكبرى والبيهقي]
Takhrîj Hadîts
Hadîts ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad [juz 2, hal. 397], Al-Bazzâr [lihat Mawârid al-Zham’ân juz 1, hal. 320], Ibn Hibbân dalam shahîh [juz 12, hal. 370], Al-Nasâ-î dalam Al-Sunan al-Kubrâ [juz 5, hal. 385], dan Al-Baihaqî dalam Al-Sunan al-Kubrâ [juz 8, hal. 13], juga dalam Syu’abu al-Îmân [juz 4, hal. 366, juz 7, hal. 496].
Syekh Nâshir al-Dîn al-Albânî menilai hadîts ini sebagai hadîts shahîh [Silsilah al-Ahâdîts al-Shahîhah hadîts no. 325].

Read more: Hukum Merusak Rumah...

Antara Uang Belanja Dan Uang Nafkah

Seorang suami mempunyai kewajiban memberikan nafkah kepada keluarganya. Jika selama ini orang menganggap bahwa nafkah yang diberikan seorang suami kepada istri itu sama dengan uang belanja yang dipergunakan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga sehari-hari, maka itu adalah pengertian yang salah. Karena uang nafkah dan uang belanja itu mempunyai makna yang berbeda.

Pada dasarnya seorang istri memiliki hak untuk mempunyai hartanya sendiri, baik yang dimiliki sebelum wanita itu menikah maupun sesudah dia menikah. Harta istri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), atau bisa juga dari hasil dia bekerja.

Suami berkewajiban memberikan nafkah dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala kebutuhan hidup istri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi istrinya, sebagaimana firman Allah SWT: "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka". (QS. An-Nisa’: 34)

Read more: Antara Uang Belanja Dan...