Arrow
Arrow
Shadow
Slider

Jika sebelum kita sudah mengulas tentang makanan atau kuliner khas Banjarnegara, kini seakan tidak akan lengkap ketika kita sudah mengincip-icip makanannya tanpa kita menikmati keindahan daerahnya. Ketika kita sudah berada di Banjarnegara maka kita bisa menikmati keindahan kawasan dataran tinggi Dieng. Dataran tinggi Dieng masuk ke kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara, tepatnya terletak di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng berasal dari bahasa Kawi yang berarti pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Jadi ketika mendapat nama seperti itu sudah bisa dibayangkan bagaimana indahnya kawasan dataran tinggi Dieng. Karena berada di daerah dataran tinggi, tanah dikawasan Dieng sangat subur sehingga menjadi penghasil sayuran untuk wilayah Jawa Tengah. Kentang adalah komoditas utama. Selain itu, wortel, kubis, dan bawang-bawangan dihasilkan dari kawasan ini. Selain sayuran, Dieng juga merupakan sentra penghasil pepaya gunung (carica), jamur, buah kemar, dan purwaceng.

Selain tanahnya yang subur, dataran tinggi Dieng sangat indah. Beberapa peninggalan budaya dan alam telah dijadikan sebagai objek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa objek wisata di Dieng.

Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Keunikan lain adalah yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Telaga Merdada, adalah merupakan yang terbesar di antara telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Airnya yang tidak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk ladang pertanian. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing untuk menyalurkan hobi atau juga wisatawan yang sekadar berkeliling dengan perahu kecil yang disewakan oleh penduduk setempat.

Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.

Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.

Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.

Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda di Dieng merupakan salah satu fenomena alam yang sangat menari untuk dipelajari. sumur Jalatunda di Dieng ini memiliki diameter 90 meter dimana menurut para ahli sumur ini terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Bekas letusan ini kemudian membentuk lubang kawah seperti sumur. Lambat laun lubang ini terisi dengan air sampai saat ini. Sumur ini memang masih jarang dikunjungi oleh para wisatawan karena lokasi dari Sumur Jalatunda sendiri aagak tersembunyi. Untuk mendatangi Sumur Jalatunda pengunjung harus mendaki anak tangga sejumlah 257 buah terlebih dahulu.

Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.

Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).

Sumber: id.wikipedia.org

credit image: tekooo.com